Tomat merupakan tanaman sayuran buah yang sangat digemari. Tomat tergolong famili Solanaceae . Banyak sekali penggunaan buah tomat, antara lain sebagai bumbu sayur, lalap, makanan yang diawetkan (saus tomat), buah segar, atau minuman (juice). Selain itu, buah tomat banyak mengandung vitamin A, Vitamin C, dan sedikit vitamin B. Tomat secara umum dapat ditanam di dataran rendah, medium, dan tinggi, tergantung varietasnya. Namun, kebanyakan varietas tomat hasilnya lebih memuaskan apabila ditanam di dataran tinggi yang sejuk dan kering sebab tomat tidak tahan panas terik dan hujan. Suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah 23°C pada siang hari dan 17°C pada malam hari. Tanah yang dikehendaki adalah tanah bertekstur liat yang banyak mengandung pasir. Dan, akan lebih disukai bila tanah itu banyak mengandung humus, gembur, sarang, dan berdrainase baik. Sedangkan keasaman tanah yang ideal untuknya adalah netral, yaitu sekitar 6-7.

Berdasarkan hasil pengamantan kami di Cisarua, tanaman tomat petani terserang jamur Phytophthora Infestans sehingga menyebabkan daun tomat menjadi busuk. Gejala penyakit dapat timbul pada semua tingkat perkembangan tanaman. Bercak hitam kecoklatan atau keunguan mulai timbul pada helai daun, tangkai atau batang dan bila keadaan mendukung akan meluas dengan cepat, sehingga dapat menyebabkan kematian. Perkembangan bercak akan terhambat bila kelembaban relatif rendah. Bercak akan berkembang kembali bila kelembaban meningkat. Pada bercak yang berkembang dengan cepat, bagian yang paling luar berwarna kuning pucat dan akan terus menjalar kebagian daun luar yang masih berwarna hijau. Pada sisi bawah daun tampak adanya pembentukan organ pengembangbiakan jamur ( spora ) yang berwarna putih seperti beludru pada daerah peralihan antara pucat dan ungu. Pada tanaman tomat penyakit dapat menyerang buah pada tingkat perkembangannya. Bercak yang berwarna hijau kelabu kebasah – basahan meluas menjadi bercak yang bentuk dan besarnya tidak menentu. Pada buah hijau bercak berwarna coklat tua, agak keras dan berkerut. Bercak ini mempunyai batas yang jelas dan batas ini tetap berwarna hijau pada waktu bagian buah yang tidak sakit matang ke warna yang biasa. Kadang – kadang bercak mempunyai cincin – cincin.

Jamur ini dapat mempertahankan diri dari musim ke musim dalam umbi – umbi yang sakit dan dalam bagian – bagian tanaman yang lain. Apabila bagian yang sakit dibuang dalam kondisi yang cocok dapat menyebarkan spora jamur. Spora terutama disebarkan oleh angin. Jika jatuh pada setetes air pada permukaan tanaman yang rentan, spora akan langsung berkecambah dan mengadakan proses infeksi.
Perkembangan bercak penyakit pada daun paling cepat terjadi pada suhu 18 -20 0 C. Pada suhu udara 30 0 C perkembangan bercak terhambat. Oleh karena itu di dataran rendah ( kurang dari 500 dpl ) penyakit busuk daun tidak merupakan masalah. Epidemi penyakit busuk daun biasanya terjadi pada suhu 16 – 24 0 C. Didataran tinggi di Jawa, busuk daun terutama berkembang hebat pada musim hujan yang dingin, antara bulan Desember dan Februari.
Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan melaksanakan beberapa usaha secara terpadu, seperti hanya menanam bibit yang sehat, tidak menanam tanaman di bekas lahan yang ditanami tanaman sejenis ( contoh: kentang, tomat, terung ), penyemprotan dengan fungisida terutama fungisida yang mengandung tembaga hidroksida (Kocide 77WP), fungisida berbahan aktif mankozeb, propinep atau maneb. Pelaksanaan penyemprotan tergantung pada keadaan cuaca. Setiap habis hujan lebat penyemprotan dianjurkan untuk diulangi, menanam jenis – jenis tanaman yang tahan, menjaga kebersihan lahan, sisa – sisa tanaman yang sakit harus segera dimusnahkan
( dibakar ) agar daur hidup jamur dapat diputuskan.

Selain penyakit busuk, tanaman tomat juga terserang hama ulat buah Helicoverpa armigera (Ordo : Lepidoptera, Famili : Noctuidae) sehingga menyebabkan buah tomat berlubang-lubang. Ngengat berwarna coklat kekuning-kuningan dengan bintik-bintik dan garis yang berwarna hitam. Ngengat jantan mudah dibedakan dari ngengat betina karena ngengat betina mempunyai bercak-bercak berwarna pirang muda – tua, sedangkan ngengat jantan tidak. Telur berbentuk bulat dengan warna putih agak kekuning-kuningan, kemudian berubah kuning tua dan akhirnya ketika akan menetas terlihat adanya bintik hitam. Stadium telur berkisar antara 10 – 18 hari dan persentase penetasan telur berkitar antara 63 – 82 %. Larva ketika baru menetas dari telur berwarna kuning muda dengan tubuh berbentuk silinder. Larva muda kemudian berubah warna dan terdapat variasi warna dan pola corak antara sesama larva. Larva H. armigera terdiri dari lima instar, lama stadium larva berkisar antara 12 – 25 hari. Pupa dibentuk di dalam tanah. Pupa yang baru terbentuk berwarna kuning, kemudian berubah kehijauan dan akhirnya berwarna kuning kecoklatan. Lama stadium pupa adalah 15– 21 hari.

Gejala serangan ditandai dengan buah-buah tomat yang berlubang-lubang. Buah tomat yang terserang menjadi busuk dan jatuh ke tanah. Kadang-kadang larva juga menyerang pucuk tanaman dan melubangi cabang-cabang tanaman. Selain pada tomat, hama ini juga menyerang jagung, tembakau, kapas, kentang, kubis dan kacangkacangan.

Pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai macar cara seperti

a). Kultur teknis

Pengaturan waktu tanam, penanaman varietas toleran, seperti LV 2100 dan LV 2099, penanaman tanaman perangkap tagetes (Tagetes erecta) di sekeliling tanaman tomat, sistem tumpangsari tomat dengan jagung dapat mengurangi serangan H. armigera.

b). Pengendalian fisik / mekanis

Mengumpulkan dan memusnahkan buah tomat yang terserang H. armigera, pemasangan perangkap feromonoid seks untuk ngengat H. armigera sebanyak 40

buah / ha.

c). Pengendalian hayati

Pemanfaatan musuh alami seperti : parasitoid telur H. armigera yaitu Trichogramma sp., parasitoid larva yaitu Eriborus argenteopilosus, dan virus HaNPV sebagai patogen penyakit larva H. armigera.

d). Pengendalian kimiawi

Bila ditemukan ulat buah ≥ 1 larva / 10 tanaman contoh, dapat diaplikasikan insektisida yang efektif dan diizinkan, antara lain piretroid sintetik (sipermetrin, deltametrin), IGR (klorfuazuron), insektisida mikroba (spinosad), dan patogen penyakit serangga H.armigera HaNPV 25 LE.

Pada literatur fase perkembangan nematoda Meloidogyne spp. dimulai dari fase telur menjadi empat tahap remaja (J1-J4) dan tahap dewasa. Telur dihasilkan setelah terjadi perkawinan (mating) atau secara phartenogenetik (tanpa perkawinan). Telur dibentuk sebagai satu sel menjadi dua sel, empat sel dan delapan tahap recognisable. Selanjut sel divisi mengarah ke tahap berudu, kemudian mengalami pemanjangan sebagai tahap muda pertama, lebih kurang empat kali panjang telur (Stadia juvenile-1). Pada stadia juvenil-1 nematoda masih berada dalam telur. Setiap pergantian stadia diakhiri dengan pergantian kulit. Kulit telur mengalami tiga lapisan, dengan vitelline lapisan paling luar, chitinous lapisan lipid dan lapisan paling dalam. Penetasan telur diawali oleh peristiwa-peristiwa perubahan perubahan dalam tipis permeabilitas, penggarisan mungkin melibatkan fisik atau proses enzimatis pada tanaman parasit nematoda (Niblack dan Norton, 1991). Dalam sebuah massa telur atau kista, tidak semua telur akan menetas sesuai kondisi optimal yang diperlukan dan menyisakan beberapa telur untuk menetas kemudian hari.amonium ion-ion telah ditunjukkan untuk mencegah penetasan dan untuk mengurangi tanaman-penetrasi kemampuan M. incognita juveniles yang mengeram (Sudirnan dan Webster, 1995).

Meloidogyne muda dari penetasan telur sebagai ulat tahap kedua juveniles     (J2). Setelah menetas juveniles memiliki tahap hidup bebas yang singkat di dalam tanah. Mereka dapat bermigrasi di dalam tanah untuk menemukan akar tanaman baru sebagai tempat tinggal mereka. J2 tidak makan selama tahap hidup bebas, namun menggunakan lipids yang disimpan di usus (Eisenback dan Triantaphyllou, 1991). Tahap kedua juveniles menyerang daerah pemanjangan akar dan bermigrasi di kar sampai mereka menjadi tak berpindah-pindah. Jueniles pertama makanan dari sel raksasa sekitar 24 jam setelah menjadi tak berpindah-pindah. Setelah lebih lanjut J2 makanan yang mengalami perubahan morfologi dan menjadi agak gemuk (stadia juvenile-3). Tanpa bulu atau kulit mereka makan tiga kali dan akhirnya menjadi dewasa. Meloidogyne dewasa akan mulai memarasit lagi dan mengembangkan sistem reproduksi (Eisenbach dan Trriantaphyllow, 1991). Tubuh betina mengalami pembengkakan agak bulat (seperti kantung telur) karena dalam tubuhnya akan keluar 24-100 ekor larva tiap hari. Larva jantan sedikit demi sedikit juga menjadi gemuk, tetapi pembengkakan hanya terjadi sampai mencapai bentuk botol; dari dalm larva berbentuk botol ini pada pergantian kulit yang terakhir keluarlah nematoda jantan yang berbentuk nematoda biasa. Nematoda jantan tersebut panjangnya 1,2-1,9 mm, stilet berkembang baik, spikula berpasangan dan terdapat di dekat ujung posterior badan. Seperti gambar di samping yaitu Meloidogyne jantan yang masih bergelung dalam j4 kulit.

Stadia fase perkembangan Meloidogyne pada pengamatan sama dengan literatur mulai dari fase telur sampai tahap dewasa. Namun pada pengamatan tidak ditemukan nematoda jantan dewasa, hal ini dikarenakan nematoda jantan biasanya keluar dari akar, lalu hidup di dalam tanah dan membuahi betina yang tinggal di bagian kulit akar. Jangka waktu minimum yang diperlukan untuk satu daur hidup Meloidogyne spp. memerlukan waktu 18-21 hari.

Ordo Lepidoptera

Kata lepidoptera berasal dari bahasa Yunani, yaitu lepidos (sisik) dan ptera (sayap). Jadi, artinya sayap serangga yang bersisik. Ukuran serangga ini ada yang kecil dan ada yang besar. Jumlah sayapnya 4 buah dan tertutup dengan sisik. Badan dan kakinya juga tertutup sisik. Antenanya ada yang seperti sikat dan ada yang seperti benang. Bagian mulutnya saling berhubungan membentuk tabung. Bagian mulutnya dilengkapi alat untuk menggigit. Selain itu, serangga ini memiliki alat penghisap yang berbentuk seperti spiral.

Badan larva terdiri dari 13 segmen. Larva ini mempunyai 3 pasang kaki pada dada (thorax). Selain itu, biasanya ada 5 pasang kaki pada bagian perut (abdomen) yang disebut kaki semu (proleg). Tiap pasang kaki semu terikat pada segmen perut ke-6, ke-7, ke-8, ke-9, dan ke-12. Pada ujung kaki (proleg) terdapat semacam kait dari kitin.

Perkembangan Lepidoptera secara holometabola, yakni ulat menjadi pupa, kemudian menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu yang kecil biasanya dikelompokkan dalam Microlepidoptera, sedangkan kupu-kupu yang besar dalam kelompok Macrolepidoptera.

Kupu-kupu ini ada yang sayapnya berbentuk atap menutupi tubuhnya jika istirahat (Heterocera). Ada pula yang sayapnya tegak lurus di atas badannya (Rhopalocera) jika istirahat. Kupu-kupu yang keluar malam biasanya disebut ngengat, sedangkan yang keluar siang disebut kupu-kupu. Biasanya sayap ngengat menutupi badannya jika istirahat.

Famili: Lasiocampidae Spesies: Trabala pallida

Gejala yang ditimbulkan pada tanaman yang terserang Trabala pallida yaitu daun digerigit tidak beraturan. Dapat menyerang jambu biji dan tanaman/ buah-buahan lain. Telur diletakkan berkelompok pada daun, larvanya terdapat garis kuning pada bagian dorsal dan kepala merah dengan garis kuning, sedangkan pupanya dilindungi kokon yang menyerupai tas dengan 2 tonjolan dan kokon melekat pada tangkai. Imago dari Trabala pallida berupa ngengat.